Sejarah Sekolah  Pada Awal Islam  by: Tatang DF (2011)
 

Setelah kemunculan Islam, pendidikan berkembang lebih pesat. Hal itu terjadi karena dukungan  ajaran Islam, yang tertuang dalam Alquran dan Alhadits, tentang pentingnya menuntut ilmu. Ayat Alquran yang pertama kali diturunkan Allah kepada Rasul Muhammad SAW adalah ayat yang mengisyaratkan betapa pentingnya membaca, dan betapa pentingnya menuntut ilmu, yaitu surat Al-Alaq yang berbunyi:

"Bacalah…, dengan nama rabmu yang telah menciptakan”

                Pada awal Islam, pendidikan persekolahan dilakukan di mesjid. Mesjid adalah tempat beribadah dan sekaligus sebagai tempat belajar. Pada  zaman ini, belum ada sekolah yang berdiri sendiri sebagai bangunan sekolah. Mesjidlah pusat belajar pada zaman itu. Kaum muslimin belajar membaca, belajar menulis, belajar ilmu syari’ah, dan lain-lain, dilakukannya di dalam masjid.

                Pengajaran tentang Islam pertama kali diajarkan oleh Nabi Muhammad kepada para sahabat dengan cara sembunyi-sumbunyi. Pertama kali Rasulullah mengajar para sahabatnya tersebut di rumah sahabat yang bernama Arqam bin Al-Arqam di Shafa. Peristiwa itu selanjutnya diabadikan menjadi Darul Arqam, yang dicatat oleh sejarah Islam sebagai tempat belajar (sekolah) Islam pertama.

Selanjutnya Islam disebarkan secara terang-terangan. Nabi Muhammad mulai memanfaatkan masjid sebagai tempat mengajar. Model pendidikan pertama kali yang didirikan Nabi Muhammad adalah model halaqah. Ia duduk di mesjid setelah salat, sedangkan para sahabat berkumpul disekelilingnya. Ia mengajar tentang dasar-dasar Islam, moral (akhlak), ibadah, dan yang paling penting adalah tauhid.

                Nabi Muhammad selanjutnya mengutus beberapa sahabatnya yang dipercaya untuk mengajar diberbagai peloksok wilayah Islam saat itu, di Makkah, dan Madinah, dan wilayah lainnya. Para sahabat itu mengajarkan tentang apa yang telah diajarkan kebadanya, dengan cara yang sama seperti Rasul mengajarkannya. Para sahabat duduk di mesjid setelah salat, sedangkan kaum muslimin yang lain berkumpul disekelilingnya untuk menerima pendidikan tentang dasar-dasar Islam; tauhid, moral (akhlak), menghafal Alquran dan ibadah.

Setelah perang Badr yang dimenangkan oleh kaum muslimin, tentara muslim pada saat itu menahan 70 tahanan. Nabi Muhammad tahu bahwa diantara ke-70 orang tahanan itu ada yang pandai membaca dan menulis. Maka Nabi Muhammad menawarkan kebebasan kepada mereka dengan syarat mereka harus mengajar membaca dan menulis kepada sepuluh kaum muslimin yang dipilih Rasulullah. Mereka sepakat, dan mengajar kaum muslimin membaca dan menulis, maka semakin berkembanglah pendidikan di kalangan kaum muslimin. Demikianlah pendidikan di dunia Islam terus berlangsung hingga pada zaman sahabat, melalui tradisi halaqah yang menjamin keaslian dari ajaran Nabi Muhammad tersebut, dengan masjid sebagai pusat belajarnya.

                Pada perkembangan berikutnya, di samping bangunan masjid tersebut dibangunlah sebuah lembaga pendidikan yang disebut “kuttab” yang dikhususkan untuk belajar Alquran, belajar bahasa Arab, menulis, membaca, dan berhitung. Kuttab adalah, di Indonesia, saat ini, sejenis Sekolah Dasar (SD atau MI) pada zaman sekarang ini. Menurut sejarah, Jubair Bin Yahya adalah salah seorang guru di kuttab, dan akhirnya ia menjadi gubernur di Thaif. Ibnu Muzahim adalah salah satu pengajar tata bahasa Arab, sedangkan Alhadjad, Al-kumait dan Altirimmah adalah mantan kepala sekolah di kuttab tersebut (Stacey.2009)

Kemudian, disamping kuttab dan masjid tersebut dibangun pulalah “almadrasah”. Almadrasah yang dimaksud adalah, di Indonesia, sejenis Sekolah Menengah dan Sekolah Atas (SMP-SMA atau MTs- MA). Meski di Negara Arab saat itu sangat kental dengan kesukuan dan golongannya, namun pendidikan yang dilakukan pada zaman awal Islam itu diberlakukan untuk semua golongan dan suku, untuk yang mampu dan yang tidak mampu, dan mereka semua dibebaskan dari biaya pendidikan, tidak dipungut biaya alias gratis.

                Pada zaman itu, jenis madrasah (sekolah) ada dua macam; 1) Addakhili yaitu sekolah yang biasanya diperuntukan bagi siswa asing atau yang jauh dari lokasi sekolah.  Mereka mondok atau menginap di sekolah, (jika digambarkan di Indonesia sama dengan pesantren atau boarding school); 2) Kharizi yaitu sekolah bagi siswa-siswa yang tidak mondok (setelah belajar, mereka pulang ke rumah masing-masing). Baik sekolah addakhili, maupun sekolah alkhariji, semuanya bebas biaya (Albasi’.1983).

                Di sekolah addakhili, segala kegiatan siswa dilakukan di sekolah; makan, tidur, belajar, dan ibadah. Dengan demikian, di sekolah addakhili selalu ada; bangunan masjid, ruang belajar, ruang tidur, perpustakaan, dapur, dan kamar mandi, bahkan ada yang dilengkapi dengan sarana olah raga. Konsep pendidikan ini, hingga sekarang terus berlangsung dan terus dikembangkan di dunia Islam seperti Almadrasah Annuriyah yang dibangun oleh Nuruddin Asysyahid di Damaskus, Universitas Alazhar di Kairo Mesir, dan lain-lain.

                Pada zaman awal Islam, para guru atau pengajar tidak digaji. Mereka mengajar tanpa mendapat imbalan apapun. Namun, sejalan dengan perkembangannya, banyak sekolah-sekolah yang dibangun, dan banyak membutuhkan tenaga guru, maka guru saat itu mulai mendapat gaji bulanan.

                Pada perkembangan selanjutnya, di beberapa wialayah negara Islam pada zaman itu, banyak dibangun sek olah-sekolah. Sejarah mencatat, ada beberapa pemimpin Islam yang sangat peduli dengan pendidikan dan pembangunan sekolah-sekolah, diantaranya adalah Shalahuddin Alayyubi, dan Nuruddin Asysyahid. Dalam sejarah Islam, Bagdad tercatat sebagai pendiri pertama sekolah yang bersistem (memiliki aturan yang jelas). Disebutkan bahwa pada zamam keterpurukan kota Badgdad, ada suatu jalan di Bagdad saat itu, yang disepanjang jalan itu dipenuhi oleh lebih 100 toko buku. Bagdad saat itu sudah memiliki lebih dari 30 perpustakaan umum yang dapat diakses semua orang (Stacey.2009). Kemudian, Bagdad bangkit dan terus berkembang menjadi pusat politik, administrasi, budaya dan pendidikan. Dari Bagdadlah lahir ulama-ulama hebat yang tersebar ke berbagai peloksok negeri. Dan hingga abad ke-5 & 6 Hijriyah, sekolah di Bagdad  telah mendidik  beribu-ribu siswa yang semuanya dididik tanpa dipungut biaya alias gratis.

Referensi:

Aisha Stacey. 2009 dalam http://islamreligion.com, diunduh tanggal 12 Maret 20120

Albasi’, Musthafa, dalam Shini, Ismail, dkk. 1983. Al’Arabiyah Linnasyiin, Kitab Tilmid 5. Makkah: Wazaratul Ma’arif.