DIDIKLAH KARAKTER ANAK-ANAK KITA

KARENA KELAK KITA AKAN MERINDUKAN DOA MEREKA

Oleh: Tatang, 2015

“Banyak orang mengatakan bahwa intelektual yang membuat seseorang menjadi ilmuan hebat. Mereka salah. Yang membentuk ilmuan hebat adalah karakter”, demikian kata seorang ilmuan hebat dan terkenal Albert Eninstein yang dikutip oleh Wongso (2010). Banyak orang mengira bahwa Einstein adalah seorang intelektual murni yang kesehariaannya bergelut dengan angka dan logika. Banyak orang mengira bahwa Einstein adalah seorang pemikir berat yang mengagungkan intelektual. Tentu saja anggapan itu terbantahkan dengan ucapannya di atas. Einstein ternyata menyangkal jika intelektual lebih hebat dari karakter. Ia justru sebaliknya, ingin mencoba menyadarkan kita bahwa karakterlah yang membuat seseorang menjadi hebat, bukan intelektual.

     Ironisnya, banyak orang yang mengagungkan kehebatan Einstein tapi ia justru terjebak pada apa yang tidak diharapkan oleh Einstein. Banyak para orang tua yang sangat berharap anaknya hebat ‘sehebat’ Einstein. Banyak para orang tua yang sangat berharap anaknya hebat dalam akademis. Diakui atau tidak, sebagian besar orang tua lebih banyak berkorban dan berani mengeluarkan biaya yang lebih tinggi agar anaknya memiliki nilai akademis yang hebat. Banyak orang tua yang lebih bangga anaknya bagus dalam akademiknya dibandingkan bagus dalam karakter. Diakui atau tidak, sebagian orang tua, bahkan sekolah dan guru, masih lebih mengutamakan pendidikan akademis dari pada pendidikan karakter. Jika kita sepakat dengan ucapan Einstein di atas, jika kita masih lebih mengutamakan akademik dari pada karakter, sesungguhnya kita sedang ‘menjerumuskan’ anak kita kedalam kegagalan hidup, bahkan untuk menjadi seorang ilmuan sekalipun. Pendidikan semacam itu hanya akan melahirkan generasi muda yang tidak produktif, tidak punya mental kuat, tidak santun, tidak percaya diri yang akhirnya mereka tidak sanggup bersaing dan gagal mencapai kesuksesan.

     “Pendidikan karakter adalah pilar keebangkitan bangsa”, demikian menurut Muhammad Nuh, mantan Menteri Pendidikan RI, yang dikutip oleh Tatang (2013). Ungkapan itu mengisyaratkan bahwa karakter adalah pilar utama bagi pembangunan bangsa. Menurut Soedarsono (2009), Presiden Soekarno (Bung Karno) pernah berkata bahwa bangsa ini (Indonesia) harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter atau character building, karena character building inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju, dan jaya serta bermartabat. Kalau kita tidak mengutamakan pendidikan karakter, maka bangsa ini menjadi bangsa kuli. Karakter adalah landasan bagi negara untuk bisa beranjak lebih tinggi. Menyingkirkan karakter maka individu, pemimpin dan negara akan jatuh, menurut Lickona. Selanjutnya Lickona  (2012) menambahkan: “Semua orang tua tentu ingin anak-anaknya menjadi sukses. Akan tetapi, kita tahu bahwa keberhasilan akan sia-sia tanpa karakter, jika kejujuran, rasa tanggung jawab, ketangguhan dalam menghadapi masalah tidak diperhitungkan”.

     Tulisan ini tidak bermaksud memojokkan peran intelektual atau nilai akademis. Intelektual atau akademis juga merupakan bagian penting yang harus diupayakan. Tapi bukan bagian terpenting, dan tidak lebih penting dari pendidikan karakter. Goleman (2006) menyebutkan bahwa, kecerdasan intelektual akan menyumbang setinggi-tingginya 20% bagi kesuksesan individu, sedangkan 80%-nya diperankan oleh kecerdasan  emosional dan spiritual. Artinya, jika pendidikan anak hanya berorientasi untuk mencapai akademis, maka pendidikan itu hanya akan menyumbang kesuksesan (duniawi) maksimal 20% saja. Bagaimana dengan kesuksesan ukhrowi anak? Meski sulit atau belum ada pembuktian, tapi jawabannya sangat jelas yaitu kesuksesan kehidupan dunia saja hanya 20%, apalagi kesuksesan akhirat. Sulit diterima kemungkinan dapat mencapai kesuksesan ukhrowi apabila pendidikan mengabaikan pendidikan akhlak, kejujuran, keadilan, kesabaran, dan pendidikan karakter lainnya. Jika pendidikan lebih mengutakan pendidikan akademis maka artinya pendidikan itu sedang ‘merencanakan kegagalan’ masa depan siswa. Itulah alasan utama mengapa Daarul Fikri harus lebih mengutamakan pendidikan karakter dari pada pendidikan akademis.

     Anak adalah amanah Allah yang tak boleh disia-siakan masa depannya. Namun demikian bukan berarti kita menyepelekan pendidikan akademiknya. Pendidikan karakter dan pendidikan akademik harus diberikan sesuai porsinya. Pendidikan karakter harus lebih diutamakan dari pada pendidikan intelektual. Dengan demikian, harapannya Daarul Fikri bisa menyumbangkan kesuksesan bagi kehidupan generasi muslim semaksimal  mungkin yaitu 80% karakter dan 20% intelektual alias 100% sukses, dunia dan akhirat, insya Allah.

     Apakah ada jaminan jika mengutamakan pendidikan karakter akan sukses? Jawabannya Pertama, makna sukses itu harus kita maknai secara komprehensif, dunia dan akhirat. Yang mampu memberikan jaminan itu hanya Allah SWT, kita hanya berusaha dan berdo’a sesuai kadar pemahaman dan kemampuan kita. Kedua, saya ingin bertanya lagi, pekerjaan apa, perusahaan apa, atau bidang apa yang membolehkan karyawannya tidak jujur, tidak disiplin dan sejenisnya? Beberapa karakter universal seperti kejujuran, kedisiplinan, ketekunan, kesantunan, dan sejenisnya adalah karakter yang mutlak dibutuhkan oleh setiap pekerjaan, oleh setiap perusahaan, dan oleh setiap bidang kegiatan. Tidak ada satu pun pekerjaan, atau perusahaan yang mentolelir karyawannya yang tidak memiliki kejujuran, kedisiplinan, dan sebagainya. Kesimpulannya, apapun pekerjaan dan bidangnya mutlak membutuhkan kejujuran, kedisiplinan, dan sejenisnya. Dan orang yang tidak memiliki kejujuran, kedisiplinan, dan sejenisnya tidak akan diterima di dunia manapun, alias akan gagal dalam mencapai kesuksesan. Jadi, sekalipun pintar, apabila tidak jujur, tidak disiplin, dan sejenisnya, maka tidak akan diterima di dunia manapun. Sebaliknya, orang yang jujur, disiplin, dan sebagainya, meski ia tidak pintar, tetap akan dihargai dan dibutuhkan oleh siapapun. Ungkapan seorang direktur: “saya tidak butuh orang pintar untuk menjalankan usaha ini, tapi saya butuh orang jujur dan mau belajar’ adalah ungkapan yang sering kita temui dalam dunia usaha. Ketiga, kita perlu lebih yakin kepada tauladan kita Rasulullah SAW bahwa pendidikan yang paling pertama dilakukannya adalah pendidikan akidah dan akhlak baru kemudian pendidikan bahasa, berhitung dan sebagainya. Apa yang dilakukan Rasulullah SAW tersebut sebenarnya merupakan isyarat penting bagi pelaksanaan pendidikan yang sebenarnya. Dan kini, isyarat itu dibuktikan oleh beberapa ahli, bahwa pendidikan karakter lebih utama dibandingkan dengan pendidikan intelektual. Karakter seseorang lebih mendukung kepada kesuksesannya dibandingkan dengan intelektualnya.

     Penelitian yang komprehensif telah dilakukan oleh Kemitraan Pendidikan Karakter University of Missouri. Kesimpulan penelitiannya menyebutkan bahawa anak-anak yang mendapatkan pendidikan karakter lebih unggul dalam berbagai bidang dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan karakter. Penelitian lain dilakukan oleh Pusat Studi Pembangunan California. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa siswa-siswa yang mengikuti program pendidikan karakter memiliki prestasi yang signifikan lebih unggul dibandingkan siswa-siswa yang tidak mengikuti program pendidikan karakter. Dr. John O’Connell juga melakukan penelitian yang hampir sama. Kesimpulan O’Connell menyebutkan bahwa dengan menciptakan lingkungan pendidikan yang santun, saling menghormati, dan bertanggung jawab menghasilkan keberhasilan akademis yang berkelanjutan. Demikian beberapa hasil penelitian tentang pendidikan karakter yang dikutip oleh Lickona (2012).

     Pendidikan, (termasuk pendidikan karakter) hakikatnya adalah tanggung jawab keluarga. Keluarga adalah wadah pertama dan utama yang harus memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Menurut pendidikan Islam, keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. “Keluarga adalah pihak pertama dan yang paling penting dalam mempengaruhi karakter anak. Tugas sekolah adalah memperkuat nilai karakter yang telah diajarkan di rumah” kata Lickona (2012). Sekolah bukan pemeran utama atau penanggungjawab pertama dalam pendidikan karakter siswa. Fungsi sekolah adalah melengkapi dan menguatkan apa yang telah diajarkan oleh para orang tua pada anak-anaknya di rumahnya. Kenyataan yang terjadi, banyak orang tua yang ‘menyerahkan’ sepenuhnya pendidikan anaknya kepada sekolah. Seolah-olah orang tua sudah ‘bebas tanggung jawab’, dengan membayar biaya sekolah. Pemikiran ini tentu saja tidak benar, bahkan merugikan dan mencelakakan anak kita sendiri. Mengapa demikian? Karena jika pondasi utama tidak dibangun dengan baik, bagaimana mungkin bangunan itu akan berdiri kokoh dan kuat. Yang bertugas membangun pondasi utama pendidikan karakter anak itu adalah lingkungan keluarga. Setelah bangunan pondasi itu ada, baru kemudian sekolah melanjutkan pembangunan itu agar lebih kokoh dan lebih kuat. Jika orang tua ‘melepaskan diri’, serta tidak berperan aktif dalam mendidik karakter anak-anaknya di lingkungan keluarga, khawatir mereka akan menjadi generasi yang tidak memiliki pondasi yang kuat; lemah mentalnya, kurang santun, kurang percaya diri, kurang tangguh, sehingga akhirnya tidak mampu berkompetisi dengan yang lainnya secara sehat dan benar. Tugas orang tua berikutnya adalah mencari sekolah yang tepat, sekolah yang berkomitmen untuk menguatkan dan mengokohkan pendidikan karakter yang telah dibangun di rumah.

     Sebagai orang tua muslim kita pasti berharap anak-anak kita sukses di dunia dan akhirat. Tidak ada seorang pun yang hanya berharap sukses di dunia saja atau di akhirat saja. Persoalannya, disadari atau tidak, beberapa orang tua salah memilih dan menentukan prioritas pendidikan bagi anak-anaknya. Mereka terjebak kepada mengutamakan pendidikan intelektual ketimbang pendidikan karakternya. Untuk mencapai nilai akademik yang tinggi, orang tua rela berkorban lebih besar. Sementara untuk mencapai pendidikan karakter anak, sebagian orang tua menomorduakannya. Seringkali kita sebagai orang tua tidak sadar, dan terlena oleh kesuksesan duniawi yang sesaat. Kita hampir lupa bahwa kesuksesan akhirat adalah jauh lebih penting dari pada kehidupan dunia.

     Kelak, ketika kita sudah meninggalkan anak-anak dan dunia yang fana ini, betapa berharga do’a anak-anak bagi kita. Pada setiap saat, kita akan selalu berharap dan merindukan anak-anak kita, ditengah keheningan malam mereka bangun dan berdoa “Ya Allah…ampunilah segala dosa orang tua kami, dan curahkanlah kebahagiaan kepada mereka Ya Allah”. Mereka lakukan itu dengan penuh ikhlas dan khusu. Pada malam-malam tertentu, mereka berkumpul di masjid atau majlis ilmu, lalu mereka layangkan do’a untuk keselamatan kita “Ya Allah ampunilah dosa orang tua kami, sayangilah mereka, dan muliakanlah mereka Ya Allah”. Kemudian anak-anak kita beramal baik, bersedekah, berinfak, dan beribadah lainnya, kemudian mereka memohon kepada Allah “Ya Allah semoga kebaikan amalan ini dapat mengangkat derajat orang kami yang telah mendidik kami dengan benar”. Subhanallah, betapa kita merindukan mereka melakukan itu.

     Akan seperti itukah anak-anak kita? Atau sebaliknya. Anak-anak kita sering bangun malam, tapi bukan untuk beribadah dan mendo’akan kita, melainkan untuk nonton sepak bola atau sekedar untuk menghabiskan waktu bermain game kesayangannya. Mereka berkumpul dengan teman-temannya, tapi bukan di tempat ibadah dan bukan untuk mendo’akan kita, melainkan di mall atau di kafe untuk saling mempamerkan kekayaan dan berpesta ria. Mereka mengeluarkan banyak uang, bukan untuk beramal jariyah, melainkan untuk memenuhi kebutuhan nafsu dan hobinya semata. Ibadah dan do’a yang kita harapkan ternyata kemaksiatan yang mereka lakukan. Shalat mulai berangsur dilalaikan dan ditinggalkan. Alquran juga diasingkan. Tak terucap dari bibir-bibir mereka do’a-do’a untuk kita. Betapa pilu hati kita, sedih dan menjerit penuh penyesalan, naudzubillah min dzalika, semoga kita terhindar dari kejadian itu.

     Beruntunglah orang tua yang menyekolahkan anaknya di Daarul Fikri. Disamping waktu belajar lebih banyak, Daarul Fikri juga memiliki beberapa program pendidikan (kurikulum) yang lebih mengutakan pendidikan karakter, tanpa mengesampingkan pendidikan intelektual. Tak henti-henti Daarul Fikri meningkatkan kualitas para gurunya. Komitmen kami, jika hanya ingin menjadi guru yang biasa-biasa saja, bukan di Daarul Fikri tempatnya. Kerjasama orang tua-guru dalam memberikan pendidikan juga terus dibangun dan ditingkatkan. Bahkan Daarul Fikri mensyaratkan adanya komitmen orang tua untuk bersama-sama melakukan pendidikan anak-anaknya. Jika tidak ada komitmen bersama, maka Daarul Fikri mempersilakan orang tua untuk mencari sekolah lain. Daarul Fikri bukan sekolah penitipan anak. Semua ini dilakukan semata-mata demi generasi muslim yang lebih baik, yang qurani, kreatif, inovatif sehingga mampu berkompetisi, menjadi pelopor perubahan positif, mampu memberi banyak manfaat bagi orang lain, dan pada setiap malam mereka bangun dan berdoa “Ya Allah…ampunilah segala dosa orang tua kami, dan curahkanlah kebahagiaan kepada mereka, Ya Allah”. Amin...

Referensi

Goleman, Daniel. (2006) Kecerdasan  Emosional: Mengapa EQ lebih penting dari IQ. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Lickona, Thomas. (2012). Character Matter (Persoalan Karakter). Jakarta: Bumi Aksara

Soedarsono, Soemarno. 2009. Karakter Mengantar Bangsa, dari Gelap Menuju Terang. Jakarta: Elex Media Komputindo

Tatang. (2013). Membangun Karakter Bangsa. Terdapat dalam www.daarulfikribandung.com.

Wongso, Andrie. (2010). Karakter. Majalah Motivasi Luar Biasa. No. 06 Tahun 2010.